Setapak

Cerpen : Ibu Puji Prasetyowati, S.Pd. (Guru Penggerak, Guru Mapel Bahasa Indonesia)

Suara gemericik air hujan  seakan tak mau bersahabat dengan kami siang itu. Sesekali petir terdengar menggetarkan telinga. Aku  mendekap erat Kitab yang  baru saja kubaca usai salat dhuhur berjamaah di mushola sekolah kami. Enggan rasanya aku  keluar dari mushola, mengingat hujan yang begitu lebat siang itu.  Dalam suara petir dan hujan itu, tiba-tiba aku membayangkan  legenda Rawa Permai. Entahlah, mengapa bayangan itu yang muncul. Suara petir yang sesekali kudengar, ibarat suara  naga yang sedang berjalan, krincing-krincing-krincing. Seperti yang kubaca di legenda Rawa Permai.

Untunglah, tidak ada jam terakhir di siang itu. Tak terasa sudah hampir 20 menit aku duduk sendirian di mushola itu. Lama-lama terasa ngeri juga. Bukan karena suasana huja siang itu, tapi karena bayanganku sendiri tentang naga yang berjalan di antara lebatnya hujan. Ahirnya akupun beranjak keluar mushola. Hujan sudah mulai mereda. Tinggal sandal pulkadot warna biru yang menungguku.

Aku bergegas ke ruang guru, untuk menyelesaikan tugasku di LMS. Kembali kubuka laptopku. Aku bergelut kembali dengan LMS. Kubuka  lagi  tugas apa yang harus kukerjakan siang itu. Aku menghela napas. Kubuka aplikasi canva. Kembali kuberkutat dengan canva. Sekarang, canva seakan menjadi makanan favoritku setiap hari. Kuketik huruf demi huruf untuk kurangkai dalam canva yang bervariasi.

Kudengar beberapa temanku mengajakku untuk pulang.  Aku hanya tersenyum dan mempersilakan mereka pulang terlebih dahulu karena ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Kubiarkan mereka mendahuluiku seperti biasanya. Aku menyibukkan diri dengan LMS. Hingga terdengar azan salat asar. Aku melihat jam. Ternyata sudah sore. Aku  segera mematikan laptaopku. Aku bermaksud untuk meneruskannya esok hari. Kepalaku sudah terasa penat.

Kuambil jaket lalu aku menuju ruang Tata Usaha untuk rekam wajah pulang. Ternyata masih ada Pak Agus di ruang itu. Kami pun berbincang terakit tugas laporan P5 yang belum kuselesaikan. Hampir 30 menit kami berbincang, dan akhirnya dalam kesepakatan kecil itu, akulah yang harus membuat laporan tertulis dan video tentang pelaksanaan P5. Tugas baru lagi. Hmm, harus tambah semangat. Kusemangati diriku sendiri sebelum aku pulang.

Scopy coklat menungguku. Sejenak aku termenung dalam parkir itu. Kembali menyemangati diri lagi. Beberapa murid masih ada di sekolah mengikuti kegiatan ekstrakurkuler. Ada tiga gadis berjalan dari gazebo ketika aku akan mulai naik keluar pintu gerbang.

“Ayo siapa yang mau bareng Bu Puji?” tanyaku menawarkan diri meski masih gerimis kecil.

“Ni Bu, Dian. Ayo Yan, kamu khan ke arah Pasar Sapi,” kata temannya.

“Ayo, tapi  Bu Puji hanya bawa jas hujan satu ya,” kataku kemudian.

Dian tampak malu. Dari tatapan matanya, aku merasakan dia ingin bersamaku, tapi mungkin karena malu saja diam hanya diam dan tersenyum. Temannya kembali mebujuknya. Dan akhirnya Dian pun  memboncengku.

Dalam gerimis kecil, kami berbincang. Aku baru pertama ketemu Dian karena aku memang  tidak mengajar  di kelas 8H. Lagi pula aku masih guru baru di sini, sehingga baru mengenal beberapa murid saja. Demikian juga Dian, baru mengenalku  saat itu.  Dalam perbincangan itu akhirnya aku pun tahu kalau rumah Dian ada di Perumahan Domas, perumahan yang biasa kulalui setiap  hari.

“Dian, kamu mau tetap membonceng Bu Puji atau mau naik angkutan?” tanyaku setelah sampai di Pasar Sapid an kebetulan lampu merah.

“Gimana ya Bu?” kayanya kemudian.

“Ya, udah. Bareng Bu Puji saja, tapi kamu kehujanan ya. Ini masih gerimis kecil-kecil. Atau kamu pakai jaket Bu Puji saja,” kataku menawarkan.

“Bareng saja Bu, terima kasih,” katanya.

Akhirnya kami berdua pun melaju dalam gerimis kecil yang tak kunjung mereda. Sampailah kami di perempatan Sukowati. Kebetulan lampu merah lagi. Kuamati Dian lewat kaca spion, ada getar hati yang kurasakan.  Aku  berusaha menyelidik kehidupan Dian.

“Yan, Bapak kerja di mana?’ tanyaku.

“Bapak  saya  pemulung, kalau ibu di rumah menjaga adik,  Bu,” katanya.

“O, “ aku diam tak bisa bertanya lagi.

Kami pun melanjutkan perjalanan, sampailah di Jalan Patimura. Untunglah penjual sayur langgananku masih ada di sana. Mbak Anik, begitu panggilannya, sudah mulai berkemas. Beberapa barang dagangan sudah dimasukkan ke dalam ember besar.

“Mbak, masih ada apa?” tanyaku.

“Sop-sopan Bu, ini ada ayam ungkep tinggal satu kilo,” katanya sambil mengeluarkan aya yang baru saja dimasukkan dalam kotak plastik.

“Baiklah, Mbak, aku ambil ayamnya, dibagi dua ya Mbak. Sekalian tahu dan sayur sop nya,” kataku sambil mengeluarkan selember warna merah dari dompet coklatku.

“La kok dibagi dua to, Bu?” tanyanya.

“Yang sebagian untuk dia, Mbak, “ kataku sambil menunjuk Dian. Mbak Anik diam, tak banyak tanya, Dan dibagilah ayam ungkep itu menjadi dua. Saya minta dibungkus sendiri-sendiri.

Setelah kubayar, separo ayam ungkep itu kuberikan pada Dian.

“Dian, ini untuk lauk sama adikmu di rumah,” kataku sambil menyodorkan bungkusan itu.

“Makasih ya Bu, maaf merepotkan Bu Puji,” katanya. Aku hanya tersenyum melihat kebahagiaan terpancar dari wajahnya.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Kuantar dia sampai ke rumahnya. Dian memanduku melalui beberapa gang dalam gerimis yang semakin tebal.  Berdasarkan keterangan Dian,  rumah itu pun adalah rumah kontrakkan.

“Rumahku, ada di paling ujung Bu,” katanya.

“Ini?” tanyaku setelah kami sampai di ujung gang.

“Bukan Bu, masih masuk kok Bu,” katanya.

“Lho, kamu lewat mana nanti? “ tanyaku begitu Dian turun dari boncengan.

“Jalan setapak ini, Bu,” katanya  sambil mencium tanganku sambil berpamitan. Ada ucapan terima kasih  yang sangat tulus yang kurasakan.

“Baiklah, hati-hati, salam untuk keluargamu,” kataku mengakhiri percakapan kami siang itu.

Kuamati Dian, menyusuri jalan setapak  menuju rumahnya. Rimbunan rumput dan pohon-pohon besar di kanan kirinya menghalangi pandanganku untuk bisa melihat rumah kontrakkan Dian. Kulihat jalannya sangat licin, masih jalan tanah dan  sepertinya hanya dilewati untuk jalan kaki saja. Kalau pun  ada yang berani naik sepeda motor, haruslah hati-hati. Kuamati sampai Dian tak kelihatan, lalu aku pun berbelok arah, pulang.

Gerimis semakin deras, lama kelamaan hujan deras mengiringi perjalanku. Beberapa pengendara sepeda motor ada yng berhenti untuk  berteduh di sepanjang pertokoan yang kulewati. Tak kuhiraukan mereka, karena tujuanku cepat sampai rumah bertemu dengan anak-anakku dan beristirahat.  Akhirnya sampailah aku di rumah. Kubuka pintu pagar, dan segera kulepas jas hujanku. Aku gantungkan di tempat jas hujan.

Aku segera membersihkan diri. Mendengar ibunya datang, kedua anakku keluar dan bersalaman denganku.  Kucium mereka berdua meski mereka sudah besar. Anakku yang paling  kecil memandangku dan bertanya.

“Ibu, sudah bawa pesananku?” tanyanya

“Hujan Dik, ibu hanya sempat beli lauk. Nanti sore saja beli di Zam-zam. Kalau beli di Salatiga, takutnya basah, malah nggak bisa dipakai,” kataku sambil meletakkan handuk kecil yang kupakai untuk mengeringkan wajahku.

“Ya, tapi nanti diantar ya,” pintanya.

“InsyaAllah. Kamu sudah makan?” tanyaku kemudian.

“Ibu  ki apa nggak  capek, setiap kali pulang, selalu pertanyaan itu yang ditanyakan. Adik sudah makan, kakak sudah makan,” kata anakku dengan nada yang lucu.

“Ibu  yang perhatian itu begitu, Dik,” sahut kakaknya.

Aku masuk  ke kamar diikuti kedua anakku. Karena dingin, kupakai selimut tebal warna hijau berbunga kuning. Kami pun bercerita ringan. Masing-masing anakku bercerita pengalamannya hari itu. Sebenarnya aku sangat mengantuk, tetapi kubiarkan saja mereka berbicara dan bercerita. Sesekali aku tanggapi dan aku tanya.

Melihatku semakin mengantuk, akhirnya mereka keluar dan membiarkan aku beristirahat sebentar. Ternyata aku tak bisa tidur. Begitu kedua anakku keluar dari kamar aku malah tidak jadi mengantuk. Mungkin tadi seperti dininabobokkan dengan cerita kedua anakku. Meski tak jadi tidur, aku tetap berbaring sambil menghangatkan badan sekaligus menunggu kepulangan suami.

Sekitar pukul 17.00 WIB kudengar   pintu belakang terbuka. Aku bergegas keluar kamar  untuk membuat teh hangat. Kulihat wajah suamiku yang tampak semakin tua dan capek. Aku mencium tangannya dan dia pun mencium keningku.

Setelah membersihkan diri, kami duduk  bersama di  kursi meja makan. Aku makan kue kering yang kemarin  kubeli. Kue bolu kering kesukaanku sejak dulu.  Bentuknya  tidak berubah sejak dulu. Dalam tiga gigitan, habislah satu kue kering itu. Suamiku pun mengambilnya.  Ada benang merah dari cerita kami ketika kami berbincang sore itu. Semua tentang perjuangan hidup.

Sore hingga malam menjelang tidur, tak ada cerita istimewa yang dapat kutulis. Hingga esok paginya, kami pun melanjutkan rutinitas kami. Aku dan suamiku bekerja sedangkan  anak-anak pergi ke sekolah. Masing-masing dari kami pasti akan membawa cerita yang berbeda tentang hari itu, dan cerita berbeda itu akan kami bagi sore hari ketika kami berkumpul. Begitulah kami.

Pukul 06.45 WIB aku sudah di parkir sekolah. Beberapa  guru sudah mulai berdatangan. Dari parkir, kami berjalan beriringan menuju kantor tata urha untuk melakukan perekaman wajah. Halaman sekolah mulai ramai dengan kedatangan siswa. Aku bergegas ke ruang guru. Kubuka buku agenda kegiatanku pagi ini. Ternyata ada yang belum kulakukan kemarin, yaitu mengisi data siswa. Untunglah jam pertama hari ini aku masuk ke kelas VIIG.

Sebagai wali kelas baru, aku belum memiliki data diri siswa. Pada jam pertama kumanfaatkan untuk memasukkan data siswa dengan bantuan murid-murid. Data yang sudah dikumpulkan mereka kemarin, aku bagi lagi pada mereka. Satu persatu kupanggil untuk memberikan keterangan tentang data diri mereka. Satu demi satu, mereka memberikan data diri, dan aku mengetiknya langsung di laptopku.  Akhirnya sampailah pada Bima.

Bima selama ini saya kenal sebagai anak pendiam dan penurut. Bima maju dan duduk di sampingku dan memberikan keterangan tentang dirinya berdasarkan data yang yang dibawanya.

Kuhentikan jari-jari lentikku memencet keyboard. Ada linangan air mata meleleh di pipiku. Bima, tak kusangka dia adalah piatu sejak bayi. Ada rasa menyesal mengapa baru saat ini aku mengetahuinya. Setelah dua bulan aku di tempat ini. Kuhela napas, kuelus punggungnya. Andai saja dia seorang perempuan, pasti aku sudah memeluknya.

Bima bercerita bagaimana kondisi ayahnya saat ini. Ayahnya di PHK dan sekarang kerja serabutan di usianya yang sudah mulai senja. Sedangkan kakaknya terpaksa tidak melanjutkan  ke perguruan tinggi karena faktor biaya. Kakaknya menjadi tulang punggung keluarga.

“Bima, untuk tabungannya bagaimana?” kualihkan pembicaraan kami untuk mengurangi kesedihan kami.

“Maaf Bu, saya belum pernah menabung. Bapak belum memberikan uang,” katanya menunduk.

“Nggak papa Bim. Nanti kamu bilang ke Bapak, tidak usah memikirkan tabungan. InsyaAllah jika Bu Puji ada rezeki, biar menjadi tanggungan Bu Puji saja,” kataku sambil memandang matanya.

“Terima kasih Bu,” katanya.

Kuakhiri percakapan kami karena masih  ada beberapa siswa yang harus segera kumasukkan datanya. Saat aku memasukkan data, tiba-tiba Bu Astati masuk kelas.

“Bu Puji, mari sekarang kita ke rumah Afita,” ajak beliau.

“Baik Bu, saya masukkan  data satu anak dulu ya,” jawabku. Lalu kumasukkan data siswa berikutnya. Masih ada 10 siswa yang belum kumasukkan. Karena waktu  mengajar belum selesai, akhirnya kuberikan tugas pada siswa untuk mempelajari materi dari buku siswa. Aku bergegas ke ruang BK. Bu Astati sudah menungguku. Kami berdua menuju ke rumah Afita. Jalan  setapak yang sangat licin, membuatku harus turun dan berjalan di belakang Bu Astati yang mengendarai sepeda berplat merah.

Beberapa tumpukan kayu bakar ada di samping rumah yang bersebelahan  dengan sungai yang sanagt besar. Bu Astati memberikan salam beberapa kali, sementara aku melihat-lihat kondisi lingkungan rumah Afita. Rumah tanpa teras,  berdiri di atas tumpukan batako. Aku hanya menghela napas. Entahlah.

Seorang ibu membuka pintu dan kami dipersilakan masuk. Ada  seorang bapak yang sudah tua  duduk di kursi dan ternyata dia adalah kakek Afita.  Kuamati ruang tamu. Ada sepasang kursi tamu yang sudah using. Ada sebuah TV ukuran 14 inci di atas meja. Kulihat ada sekat dari kain yang tak jelas warnanya. Kelihatannya untuk menyekar ruang tamu dengan ruang belakang.

Kondisinya sangat memprihatinkan. Afita dan ibunya tinggal di rumah itu dengan status menumpang, karena rumah itu sudah menjadi milik bibinya. Karena menumpang,  kewajiban ibu Afita adalah mengasuh anak bibinya tanpa imbalan. Sebagai sumber pendapatan, ibu Afita berjualan botok keliling sebelum bibi Afita pergi bekerja.

“Bu, Afita sudah seminggu ini tidak masuk, kenapa ya,” tanya  Bu Astati.

“Kemarin sakit dua hari Bu, lalu dia merawat neneknya yang sakit. Tas dan sepatunya juga belum kering Bu, karena tak ada panas,” kata ibu Afita. Sementara Afita diam menunduk di samping ibunya. Sesekali dia memainkan jari-jarinya.

“Ibu, khan ada nomor yang bisa dihubungi, kenapa tidak WA saya,” kataku.

“Maaf Bu, HP Afita saya gadaikan. Kemarin untuk membayar uang bulanan kakaknya,” katanya menjelaskan.

Aku diam dan Bu Astati melanjutkan perbincangan. Banyak informasi yang kudapatkan dari pembicaraan itu. Mengakhiri perbincangan pagi itu aku  berpesan.

“Afita, kamu harus kembali sekolah ya, kalau tidak punya tas, besok pagi saya bawakan, kebetulan Bu Puji punya beberapa tas sekolah. Bisa kamu pakai jika kamu mau. Besok saya bawakan. Untuk tabungan, insyaAllah nanti saya membantu, sebisa Bu Puji,” kataku mengakhiri.

Ada rasa  bahagia dari  mereka. Dan kami pun berpamitan pulang. Sepanjang jalan aku dan Bu Astati banyak bercerita tentang kondisi murid-murid kami dan itu menjadi tantangan bagiku. Hari ini ada Bima dan Afita yang masuk dalam daftar  hatiku. Semoga Allah menurunkan malaikat-malaikatnya untuk membantu mereka dan mereka yang lain.

Terjawab sudah mengapa aku harus di sini, di tempat yang baru. Untuk bertemu mereka. Dan mungkin masih ada serangkaian nama yang akan menghias  blog pribadiku. Setapak demi setapak aku mencoba mengenali, semoga Allah memudahkan semuanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *